Fakultas Ilmu Sosial, Politik,
Administrasi & komunikasi

Universitas Muhammadiyah Palangka Raya

Dekan FISIP-ADKOM UMPR Soroti Efektivitas PJJ di Tengah Kabut Asap Karhutla

Source: Humas FISIP-ADKOM UMPR

PALANGKA RAYA – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dinilai menjadi solusi yang tepat untuk menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Tengah.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Politik, Administrasi, dan Komunikasi (FISIP-ADKOM) Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), Dr. Rita Rahmaniati, M.Pd., mengatakan kebijakan PJJ merupakan langkah yang perlu diambil dalam situasi darurat guna melindungi kesehatan peserta didik tanpa menghentikan proses pembelajaran.

“PJJ itu tetap belajar. Jadi jangan disalahartikan bahwa PJJ itu libur. Siswa tetap mengikuti pembelajaran, hanya saja tidak datang ke sekolah,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).

Menurut Rita, penerapan PJJ memiliki berbagai pertimbangan, terutama ketika kualitas udara berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat. Dalam kondisi tersebut, keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama.

“Prioritas utama dari kebijakan ini adalah kesehatan. Peralihan ke PJJ merupakan langkah yang memang harus dilakukan untuk mencegah gangguan pernapasan pada anak-anak,” katanya.

Dia menjelaskan, apabila kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan secara tatap muka saat kabut asap pekat, efektivitas pembelajaran justru berpotensi menurun karena kondisi kesehatan siswa dapat terganggu.

“Kalau dipaksakan masuk sekolah, banyak yang sakit, batuk, bahkan bisa mengganggu konsentrasi belajar. Akhirnya kualitas pembelajaran juga menurun atau mengalami learning loss,” jelasnya.

Selain menjaga kesehatan peserta didik, PJJ juga dinilai memiliki sejumlah manfaat. Salah satunya adalah fleksibilitas waktu belajar serta akses yang lebih luas terhadap berbagai sumber pembelajaran berbasis digital.

“Anak-anak tidak hanya bergantung pada penjelasan guru. Mereka bisa mencari referensi tambahan dari berbagai sumber sehingga akses terhadap materi pembelajaran menjadi lebih luas,” tambahnya.

Rita menambahkan bahwa pengalaman selama pandemi Covid-19 turut meningkatkan kemampuan literasi digital guru dan siswa. Berbagai platform pembelajaran daring yang sebelumnya belum familiar kini telah menjadi bagian dari aktivitas pendidikan.

“Dulu banyak yang belum bisa menggunakan Zoom atau aplikasi pembelajaran lainnya. Sekarang keterampilan teknologi guru maupun siswa jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu,” tuturnya.

Meski demikian, dia mengakui pembelajaran daring juga memiliki tantangan. Keterbatasan interaksi langsung antara guru dan siswa dapat memengaruhi pemahaman materi, sementara aspek pembentukan karakter dan kedisiplinan peserta didik memerlukan perhatian lebih.

“Interaksi yang terbatas membuat penyerapan ilmu bisa berbeda. Selain itu, aspek kedisiplinan dan pembentukan karakter juga menjadi tantangan karena siswa tidak berada dalam lingkungan sekolah secara langsung,” lanjutnya.

Menurut Rita, tantangan lain yang masih dihadapi dalam pelaksanaan PJJ adalah keterbatasan perangkat belajar, kuota internet, serta kualitas jaringan yang belum merata di sejumlah wilayah.

Namun demikian, dia menilai pelaksanaan PJJ saat ini jauh lebih siap dibandingkan ketika pandemi Covid-19 pertama kali terjadi. Meningkatnya kepemilikan perangkat digital, semakin luasnya akses internet, dan pengalaman yang dimiliki guru maupun siswa menjadi faktor pendukung yang penting.

“Kalau dibandingkan saat Covid-19 tentu jauh lebih siap. Waktu itu kita terkesan dipaksa dan mendadak. Sekarang masyarakat sudah lebih terbiasa menggunakan teknologi pembelajaran, perangkat lebih banyak dimiliki, dan akses internet juga semakin baik,” ungkapnya.

Sebagai akademisi, Rita berharap masyarakat dapat memahami bahwa PJJ merupakan langkah strategis dalam situasi darurat untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan, sekaligus melindungi kesehatan peserta didik dari dampak buruk kabut asap karhutla. (adr)