
PALANGKA RAYA – Perjuangan tim Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) dalam Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu VI Regional Tengah Tahun 2026 harus terhenti di fase grup. Meski belum berhasil melaju ke babak berikutnya, tim UMPR tetap menorehkan pengalaman berharga setelah mampu bersaing dengan sejumlah perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.
Berdasarkan hasil klasemen Grup D, UMPR menempati peringkat ketiga dengan catatan satu kemenangan dan dua kekalahan dari tiga pertandingan yang dijalani. Posisi puncak grup ditempati Universitas Galuh, disusul Universitas Slamet Riyadi di peringkat kedua.
Tim UMPR yang terdiri dari Muhammad Fikri Haikal dan Riady Theo Dinata dari Program Studi Administrasi Publik FISIP-ADKOM UMPR serta Bunga Ramadhani dari Fakultas Hukum UMPR sebelumnya berhasil lolos Tahapan Eliminasi dan mewakili kampus pada ajang yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) tersebut.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik, Administrasi, dan Komunikasi (FISIP-ADKOM) UMPR, Dr. Rita Rahmaniati, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas perjuangan dan kerja keras tim selama mengikuti kompetisi di Jakarta.
“Kami tetap bangga dengan perjuangan mahasiswa yang telah membawa nama UMPR hingga ke tingkat regional. Mereka sudah memberikan kemampuan terbaiknya dan menunjukkan semangat kompetitif yang luar biasa,” kata Rita, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, hasil yang diperoleh saat ini tidak mengurangi nilai dari proses pembelajaran yang telah dijalani para mahasiswa selama mengikuti kompetisi. Justru pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi ajang serupa pada masa mendatang.
“Dalam sebuah kompetisi tentu ada kemenangan dan ada hasil yang belum sesuai harapan. Yang terpenting adalah pengalaman, peningkatan kapasitas, serta keberanian mahasiswa untuk tampil dan bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
Rita menilai kompetisi debat penegakan hukum pemilu memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa, terutama dalam mengasah kemampuan berpikir kritis, analisis hukum, argumentasi, serta pemahaman terhadap sistem demokrasi dan kepemiluan di Indonesia.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh tim dapat dibagikan kepada mahasiswa lain sehingga mampu memotivasi lebih banyak mahasiswa UMPR untuk mengikuti berbagai kompetisi akademik di tingkat regional maupun nasional.
“Kami mengapresiasi seluruh tim, dosen pembimbing, dan pihak yang telah memberikan dukungan. Semoga tahun depan UMPR dapat kembali berpartisipasi dengan persiapan yang lebih matang dan meraih hasil yang lebih baik,” tuturnya.
Meski langkah UMPR harus terhenti di fase grup, keikutsertaan dalam Kompetisi Debat Penegakan Hukum Pemilu VI Regional Tengah menjadi bukti komitmen kampus dalam mendorong mahasiswa untuk terus berkembang, berprestasi, dan berkontribusi dalam penguatan demokrasi melalui jalur akademik. (adr)
