Fakultas Ilmu Sosial, Politik,
Administrasi & komunikasi

Universitas Muhammadiyah Palangka Raya

Kaprodi Ilmu Komunikasi UMPR: PJJ Jadi Solusi Pembelajaran di Tengah Kabut Asap

Source: Humas FISIP-ADKOM

PALANGKA RAYA – Ketua Program Studi (Kaprodi) S1 Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial, Politik, Administrasi, dan Komunikasi (FISIP-ADKOM) Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), Dr. H. Junaidi, S.H., M.I.Kom., menilai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi langkah yang tepat untuk menjaga keberlangsungan proses akademik di tengah kondisi kabut asap yang melanda Kota Palangka Raya.

“Untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan mahasiswa dalam proses belajar-mengajar, maka dilakukan kebijakan PJJ,” kata Junaidi, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat secara umum, tetapi juga memengaruhi mobilitas mahasiswa menuju kampus dan pelaksanaan perkuliahan tatap muka.

“Ketika kualitas udara menurun, tentu kesehatan mahasiswa harus menjadi perhatian utama. Karena itu, pembelajaran daring menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan sementara waktu,” ujarnya.

Meski demikian, Junaidi mengingatkan bahwa efektivitas pembelajaran daring sangat bergantung pada kreativitas dosen dalam mengelola proses belajar agar mahasiswa tetap aktif dan terlibat selama perkuliahan berlangsung.

“PJJ itu tidak boleh monoton. Dosen harus mampu menghadirkan pembelajaran yang menarik, misalnya melalui video pembelajaran, diskusi interaktif, kuis maupun pembahasan studi kasus sehingga mahasiswa tetap antusias mengikuti materi,” jelasnya.

Dia menambahkan, pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran harus dioptimalkan agar tujuan akademik tetap tercapai meskipun perkuliahan tidak dilaksanakan secara langsung di ruang kelas.

“Yang penting mahasiswa tetap mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas walaupun dilaksanakan secara daring,” katanya.

Selain aspek pembelajaran, Junaidi menilai komunikasi yang baik antara kampus dan mahasiswa juga menjadi faktor penting selama masa kabut asap. Informasi terkait kebijakan akademik, kondisi kualitas udara hingga langkah pencegahan perlu disampaikan secara cepat dan jelas.

“Mahasiswa harus mengetahui kondisi yang sedang terjadi sehingga mereka bisa mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri,” tuturnya.

Junaidi juga mengingatkan mahasiswa, khususnya yang memiliki riwayat gangguan pernapasan seperti asma, agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan dan selalu memperhatikan informasi resmi terkait kualitas udara.

“Mahasiswa hendaknya mengikuti informasi dari lembaga yang berwenang seperti BMKG, BNPB maupun BPBD agar memperoleh data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dia mengajak mahasiswa untuk berkontribusi memberikan edukasi kepada masyarakat dengan menyebarkan informasi yang akurat serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum terverifikasi di media sosial.

“Ketika semuanya berbasis data, mahasiswa dapat menjadi agen edukasi yang memberikan pencerahan kepada masyarakat. Ini juga bagian dari peran intelektual yang harus dijalankan,” tegasnya.

Menurutnya, kontribusi mahasiswa tidak hanya melalui penyebaran informasi yang benar, tetapi juga dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap.

“Yang pertama tentu menjaga diri sendiri terlebih dahulu dengan disiplin menggunakan masker, kemudian menjaga keluarga, dan selanjutnya turut membantu masyarakat di lingkungan sekitar,” pungkasnya. (adr)